twitter @malafly3424 weibo @malafly3424 google+ mala.clouds

Sabtu, 18 Mei 2013


JENIS-JENIS MAKNA DALAM SEMANTIK..

a.   A.    Makna Leksikal dan gramatikal

1.         Makna leksikal adalah makna yang bersifat tetap. Oleh karena itu, makna
ini sering disebut dengan makna yang sesuai dengan kamus.
Contohnya:

a.    Bulpoin : Sejenis alat tulis yang terbuat dari plastik dan menggunakan tinta.
b.    Kerbau: Sejenis binatang berkaki empat yang biasa digunakan untuk membajak.
c.    Buku : Sejenis barang yang digunakan untuk media tulis, terbuat dari kertas.
d.  rumah
e.  kantor


2.      Makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks
pemakainya. Kata ini sudah mengalami proses gramatikalisasi, baik pengimbuhan,
pengulangan, ataupun pemajemukan.
Contohnya
Berlari = melakukan aktivitas
Bersedih = dalam keadaan
Bertiga = kumpulan
Berpegangan = saling
Berseragam = memakai seragam

b.      Makna Referensial dan Makna Nonreferensial
1.        Makna Referensial : Makna yang mempunyai referen atau acuan .
Contoh : baju,celana, buku,pensil, meja, kursi, kain.

2.     Makna Nonreferensial : Makna yang tidak mempunyai referen.
Contoh :
dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.

c.       Makna Denotatif dan Makna Konotatif
1.      Makna Denotatif dalah makna asli, makna asal , makna sebenarnya yang dimiliki leksem.
Contoh :
1.      Adik makan nasi.
2.      Kambing hitam itu mahal sekali.
3.      Banjir yang terjadi itu di karenakan air sungai yang meluap.
4.      Pak halim pergi ke makasar naik mobil pribadi.
5.      Lokasi yang akan di jadikan tempat hiburan itu telah terisi penuh oleh pemukiman penduduk.
2.      Makna Konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang mengunakan makna tersebut.
Contoh :
1.      Dalam kasus itu, ia di jadikan kambing hitam. (kambing hitam orang yang disalahkan)
2.      Bunga desa itu bekerja di bank. ( bunga desa sama dengan paling cantik)
3.      Anak itu berangkat besar ketika ayahnya berada di jepang ( berangkat sama dengan beranjak)
4.      Tiga pahlawan reformasi telah gugur lima tahun yang lalu ( gugur sama dengan mati dalam pertempuran)
5.      Masih ada segerombolan orang yang menebang demi kepentingan pribadi ( gerombolan sama kawanan)

d.      Makna Istilah dan Makna Kata
1.      Makna Istilah adalah makna yang baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam suatu konteks kalimat atau konteks situasinya.
Contoh : diagnosis, sinonim, embrio.
Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.

2.      Makna Kata adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat.
Contoh : batu, sepatu, tali, lengan
 Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan, tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. 
 Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.

Contoh lain:
Kata
Bisa ular bisa membuat orang dewasa meninggal dunia.
Kata bisa  pada awal kalimat memiliki makna yang berbeda dengan kata bisa berikutnya. Ini membuktikan bahwa makna dari sebuah kata akan berbeda-beda menurut konteks. Kata rapat, dapat berarti hampir tidak berantara; dekat sekali (tidak renggang) (menurut kamusbahasaindonesia.org), namun dapat pula berarti pertemuan (kumpulan) untuk membicarakan sesuatu; sidang; majelis (menurut kamusbahasaindonesia.org).




Istilah
Saya tidak bisa menghidupkan komputer saya karena tidak ada energi listrik yang mengalir di rumah saya.
Kata energi dalam kalimat di atas akan tetap berarti daya atau tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan (menurut kamusbahasaindonesia.org), walaupun konteks kalimatnya berubah ke dalam bidang kehidupan yang lain.

e.       Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
1.      Makna Konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata tersebut dengan konsep. Makna konseptual itu adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun. Jadi, sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif.
Contohnya :
1.      kata kursi memiliki makna konseptual ’sebuah tempat yang digunakan untuk duduk’,
2.      kata amplop memliki makna ’sampul surat’.
3.      Meja
4.      Rumah
5.      sapi
2.      Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.  Makna asosiatif ini sebenarnya sama dengan perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain yang mempunyai kemiripan dengan sifat, keadaan atau ciri yang ada pada konsep asal kata atau leksem tersebut.
Contoh:
1.      kata kursi berasosiasi dengan ’kekuasaan’;
2.      kata amplop berasosiasi dengan ’uang suap’.
3.      Kantil
4.      Merah
5.      Domba

Menurut Leech (dalam Chaer 2009:72), menyatakan  makna asosiatif dibagi menjadi lima macam, antara lain:
                              a)      Makna konotatif
Makna konotatif adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat s   indiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
b)      Makna stilistik
Makna stilistika ini berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat.
c)      Makna afektif
Makna afektif adalah makna yang berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan
d)     Makna refleksi
Makna refleksi adalah makna yang muncul oleh penutur pada saat merespon apa yang dia lihat.
e)      Makna kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.



f.       Makna Idiom dan Makna Peribahasa
1.      Makna Idiom adalah makna yang tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun gramatikal. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu, idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.
Contohnya: banting tulang artinya ’bekerja keras’, meja hijau artinya ’pengadilan’. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Contoh: daftar hitam artinya ’daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah’, besar kepala, berhati besar dan bertangan dingin.
2.       Makna Peribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan makna sebagai peribahasa.
Contohnya: besar pasak dari pada tiang artinya ‘besar pengeluaran dari pada pendapatan’. Makna pribahasa ini bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka bisanya juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata yang sering digunakan dalam peribahasa yaitu kata seperti, bagai, bak, laksana, umpama, tetapi ada juga peribahasa yang tidak menggunakan kata-kata tersebut namun kesan peribahasanya tetap tampak. Bagai katak dalam tempurung, tak ada gading yang tak retak dan bagai kucing dan anjing.

g.      Makna Kias
Makna Kias adalah makna kata atau leksem yang tidak memiliki arti sebenarnya, yaitu oposisi dari makna sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, konseptual, denotatif) disebut arti kiasan. Contohnya: putri malam artinya bulan ataupun raja siang artinya matahari. Tikus kantor artinya korupsi, tangan dingin artinya ahli atau pakar, ringan tangan artinya  suka memukul

h.      Makna lokusi, ilokusi dan perlokusi.
1.      Makna lokusi adalah makna harfiah atau makna secara stuktur tanpa diembeli pemahaman subjektif dari sudut penutur atau pendengar.
Contohnya : Udara panas
2.       Makna ilokusi adalah makna yang dipahami pendengar dari tuturan yang diujarkan penutur.
Contohnya : Sayur ini enak meskipun kurang asin
3.      Makna perlokusi adalah makna yang dimaksud penutur kepada pendengar.
Contohnya: Ada hantu






Tidak ada komentar:

Posting Komentar